Matcha kini mudah ditemukan dalam berbagai bentuk. Bubuk teh hijau ini hadir dalam latte, dessert, es krim, kue, hingga aneka produk kuliner. Warna hijaunya yang khas dan rasa umami yang cukup kuat membuat matcha memiliki karakter yang berbeda dari teh hijau yang biasa diseduh menggunakan daun utuh.

Popularitas matcha dalam budaya kuliner modern sebenarnya memiliki latar belakang yang panjang. Sebelum hadir sebagai bahan untuk berbagai minuman dan makanan, matcha memiliki hubungan erat dengan perkembangan budaya teh di Asia, terutama Tiongkok dan Jepang.

Mengenal Matcha

Matcha merupakan salah satu bentuk teh hijau yang berasal dari tanaman Camellia sinensis. Berbeda dari teh hijau yang umumnya diseduh menggunakan daun teh, matcha dikonsumsi dalam bentuk bubuk.

Pada teh hijau biasa, daun teh diseduh dengan air, kemudian ampas atau daun yang tersisa dipisahkan. Pada matcha, daun teh yang telah diproses digiling hingga menghasilkan bubuk sangat halus. Bubuk tersebut kemudian dicampurkan dengan air dan ikut dikonsumsi.

Perbedaan cara konsumsi ini membuat pengalaman menikmati keduanya cukup berbeda. Matcha memiliki tekstur, aroma, warna, dan rasa yang khas karena seluruh bubuk teh masuk ke dalam minuman.

Bahan baku matcha juga melalui proses yang lebih spesifik dibandingkan sebagian besar teh hijau biasa. Tanaman teh yang digunakan untuk matcha umumnya memperoleh perlakuan khusus sebelum pemetikan, kemudian daun diolah menjadi tencha sebelum digiling.

Awal Mula Teh Bubuk di Tiongkok

Sejarah matcha tidak dapat dilepaskan dari perkembangan budaya teh di Tiongkok. Jauh sebelum matcha dikenal luas di Jepang, masyarakat Tiongkok telah mengenal penggunaan teh dalam bentuk bubuk.

Pada masa Dinasti Tang, teh berkembang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dan mulai memiliki aturan dalam pengolahan serta penyajiannya. Perkembangan tersebut berlanjut pada masa Dinasti Song, ketika teh bubuk memperoleh perhatian besar dalam budaya minum teh.

teh matcha minuman
Gambar: Pexels

Pada periode tersebut, daun teh diproses dan dibentuk menjadi bentuk tertentu sebelum diolah lebih lanjut. Teh kemudian dapat digiling hingga halus dan dicampur dengan air. Penyajiannya turut melibatkan teknik dan perlengkapan khusus.

Budaya teh pada masa Song juga memiliki hubungan dengan lingkungan intelektual dan kehidupan keagamaan. Para cendekiawan dan biksu termasuk kelompok yang memiliki perhatian terhadap teh, baik sebagai minuman maupun bagian dari aktivitas sosial dan keseharian.

Tradisi teh bubuk dari Tiongkok inilah yang kemudian memberikan pengaruh penting terhadap perkembangan budaya teh di Jepang. Namun, praktik tersebut mengalami perkembangan tersendiri setelah diperkenalkan dan diterima dalam konteks budaya Jepang.

Ketika Matcha Berkembang di Jepang

Hubungan antara teh dan Jepang sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Teh dari Tiongkok dibawa ke Jepang dalam beberapa periode, termasuk melalui perjalanan para biksu yang mempelajari agama dan kebudayaan di Tiongkok.

Salah satu tokoh penting dalam perkembangan teh bubuk di Jepang adalah Eisai, seorang biksu yang melakukan perjalanan ke Tiongkok pada akhir abad ke-12. Setelah kembali ke Jepang, ia ikut memperkenalkan pengetahuan mengenai teh dan penggunaannya.

Pada awal perkembangannya, teh memiliki hubungan erat dengan lingkungan keagamaan, terutama di kalangan biksu Zen. Teh dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari dan membantu menjaga kondisi tubuh tetap terjaga selama menjalankan aktivitas keagamaan.

Seiring waktu, kebiasaan minum teh berkembang keluar dari lingkungan biara. Teh mulai hadir dalam kehidupan masyarakat dan memperoleh bentuk penyajian yang semakin khas di Jepang.

Dalam perkembangan berikutnya, tradisi teh Jepang memperoleh struktur dan filosofi yang lebih kuat. Praktik tersebut kemudian berkaitan dengan chanoyu, tradisi minum teh yang memperhatikan proses persiapan, peralatan, ruang, gerakan, serta hubungan antara tuan rumah dan tamu.

Matcha memiliki posisi penting dalam tradisi tersebut karena bentuk bubuknya memungkinkan teh disiapkan dengan cara yang khas. Namun, perlu dibedakan antara matcha sebagai bahan teh dan chanoyu sebagai tradisi budaya. Matcha dapat dinikmati dalam kehidupan sehari-hari, sementara chanoyu memiliki tata cara dan konteks yang lebih khusus.

Kenapa Matcha Berwarna Hijau?

Salah satu ciri paling mudah dikenali dari matcha adalah warnanya. Bubuk matcha berkualitas umumnya memiliki warna hijau yang cukup pekat, meskipun tingkat kehijauannya dapat berbeda menurut bahan baku dan proses produksinya.

Warna tersebut memiliki hubungan dengan cara tanaman teh dirawat sebelum dipanen. Tanaman teh yang digunakan untuk produksi matcha umumnya dinaungi selama periode tertentu sebelum pemetikan. Proses ini mengurangi paparan sinar matahari langsung yang diterima tanaman.

Penaungan tersebut memengaruhi perkembangan senyawa dan karakter daun teh. Salah satu dampaknya terlihat pada warna daun yang tetap hijau dan karakter rasa yang khas.

tea matcha drink
Gambar: Pexels

Setelah dipanen, daun tidak langsung digiling menjadi bubuk matcha. Daun menjalani sejumlah tahapan pengolahan terlebih dahulu. Daun tersebut kemudian diproses menjadi tencha, yaitu bahan baku yang secara khusus digunakan untuk produksi matcha.

Tencha kemudian dipisahkan dari batang dan bagian tertentu lainnya sebelum masuk ke tahap penggilingan. Proses tersebut membantu menghasilkan bubuk teh dengan tekstur yang sangat halus.

Karena seluruh bubuk dikonsumsi, warna matcha terlihat lebih pekat dibandingkan air seduhan teh hijau yang hanya mengambil ekstrak dari daun.

Daun Teh Menjadi Bubuk Matcha

Proses produksi matcha berlangsung melalui beberapa tahapan yang membuatnya berbeda dari teh hijau biasa.

Tahap awal dimulai dari tanaman teh yang telah mendapatkan perlakuan penaungan sebelum dipetik. Daun muda kemudian dipanen pada waktu yang sesuai dengan standar produksi. Kualitas bahan baku pada tahap ini berpengaruh terhadap karakter matcha yang dihasilkan.

Setelah pemetikan, daun menjalani proses pengukusan. Tahapan tersebut membantu menghentikan proses oksidasi sehingga karakter warna dan rasa daun tetap terjaga.

Daun lalu dikeringkan tanpa melalui proses penggulungan seperti yang dilakukan pada beberapa jenis teh hijau lainnya. Hasil pengolahan ini disebut tencha.

Tencha memiliki struktur yang sesuai untuk tahap penggilingan. Batang dan bagian daun tertentu dipisahkan terlebih dahulu sehingga bahan yang tersisa lebih sesuai untuk menghasilkan bubuk halus.

Setelah itu, tencha digiling secara perlahan hingga menghasilkan bubuk matcha. Secara tradisional, penggilingan dilakukan menggunakan batu giling. Proses yang lambat membantu menghasilkan bubuk dengan tekstur sangat halus.

Tahapan tersebut menjelaskan mengapa matcha memiliki proses produksi yang berbeda dari teh hijau yang biasa ditemukan dalam bentuk daun atau kantong teh. Pada teh hijau seduh, daun umumnya berfungsi sebagai bahan untuk mengekstraksi rasa dan aroma ke dalam air. Setelah penyeduhan selesai, daun dipisahkan.

Sementara itu, matcha dikonsumsi bersama bubuk tehnya. Karena itu, kualitas daun, proses pengolahan, hingga tingkat kehalusan bubuk memiliki pengaruh langsung terhadap pengalaman saat meminumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here