Kegiatan yang disukai oleh banyak orang di waktu luang yaitu menonton film. Bahkan, aktivitas itu dianggap istimewa oleh sebagian di antara mereka sehingga merogoh kocek pun bukan sesuatu yang berat dilakukan.
Mereka rela membayar tarif tertentu demi bisa menonton film favorit di bioskop. Bahkan, pada momen tertentu terutama ketika sebuah film termasuk kategori box office, para penonton harus sabar mengantri, menunggu giliran untuk membeli tiket.
Cara lain yang memungkinkan kamu bisa menonton film di mana saja dan kapan saja yaitu dengan berlangganan layanan streaming secara online lewat platform video on demand. Alhasil, nonton film makin mudah karena kamu tak perlu keluar rumah. Namun demikian, sensasinya tentu saja berbeda sama sekali dengan menonton film di bioskop.
Selain itu, ada beberapa event film tahunan di Indonesia yang selalu mampu menyedot perhatian pencinta film. Mereka di antarnya yaitu Festival Film Indonesia, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), Jakarta Film Week, Minikino Film Week, dan lainnya. Kehadiran festival film di Tanah Air juga menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai apresiasi tinggi terhadap film.
Dari sekian banyak jenis film yang ada, kita dapat membedakannya berdasar durasi tayang. Film yang berdurasi sekitar 40 menit termasuk kategori film pendek. Sementara film pamjang (feature film) memiliki durasi sekitar 90 hingga 120 menit. Lalu, ada pula film serial yang terdiri beberapa seri yang saling menyambung.
Film Pendek
Pada awal perkembangannya, hanpir semua rilm berdurasi pendek. Bahkan saking pendeknya, ada yang durasi filmnya kurang dari 1 menit. Pada masa itu, tahun 1890-an, kemunculan film pendek tak bisa dilepaskan dari sebuah alat pemutar gambar bergerak yang diciptakan oleh Thomas Edison di Amerika Serikat.
Dengan kinetoscope, seseorang dapat menonton film pendek secara individual lewat lubang pengintip di bagian atas mesin. Durasi film yang diputar sangatlah pendek, hanya beberapa detik hingga sekitar satu menit mengingat keterbatasan teknologi waktu itu.

Lumiere Bersaudara merupakan salah satu tokoh yang muncul di awal perkembangan film dengan teknologi yang masih terbatas. Karyanya yang pertama kali dipertontonkan kepada publik di Paris pada tahun 1895. Mereka berdua memproduksi film dengan durasi yang sangat singkat, antara 40 hingga 60 detik. Visualnya pun sederhana, misal rekaman kehidupan sehari-hari seperti aktivitas di pabrik dan di stasiun.
Kemudian, film pendek mulai berkembang dan diputar di bioskop sebagai bagian dari paket sebelum film utama. Film pendek berupa komedi dan animasi sangat populer di masa itu. Film yang menampilkan karakter Charlie Chaplin salah satu di antaranya. Selain itu, ada flm animasi Looney Tunes dari Warner Bross dan Tom and Jerry dari Metro-Goldwyn Mayer juga sangat digemari penonton.
Academy of Motion Picture Arts and Sciences menentukan bahwa film pendek berdurasi maksimal 40 menit. Meski demikian, dalam praktiknya, kriteria durasi film pendek bisa saja berbeda. Misal, penyelenggara festival film yang membatasi film pendek maksimal berdurasi 30 menit atau lebih singkat lagi.
Film Panjang
Kemunculan film panjang bukan berasal dari pusat film dunia Hollywood melainkan dari Australia. Film berjudul “The Story of Kelly Gang’ pada tahun 1906 disebut-sebut dalam sejarah perfilman sebagai film panjang pettama.
Dengan durasi sekitar 60 menit, film iu menceritakan kisah nyata seorang penjahat buronan di pedalaman Australia bernama Ned Kelly. Bagi rakyat Australia, Kelly adalah sosok penjahat ikonik namun dianggap seperti pahlawan layaknya Robin Hood.
Pada waktu kemunculannya, film panjang masih belum ada suaranya alias bisu. Sebabnya, ketika itu teknologi yang mampu menyatukan suara dan gambar secara sinkron belum ditemukan hingga akhir ahun 1920-an.
Bioskop yang disebut Nickelodeons memasarkan film panjang dengan cara menyebutnya sebagai “featured film”. Ini merujuk pada film utama yang dianggap paling menarik atau memiliki nilai produksi tertinggi. Film panjang muncul akibat kebutuhan pembuat film yang menginginkan cerita yang kompleks dan utuh.

Sementara dari aspek bisnis, film panjang diyakini dapat menarik penonton yang lebih “berkelas”. Dengan kata lain, mereka bisa mendapatkan keuntungan ekonomi lebih banyak dengan memproduksi film panjang.
Bagi penonton, film panjang memungkinkan mereka untuk bisa mengenali karakter yang bervariasi. Durasi film lebih panjang juga membuat narasi dan plot makin kompleks, menghadirkan pengalaman menonton yang tak didapatkan melalui film pendek.
Meski batasan film panjang bervariasi tiap organisasi film, umumnya, durasi film lebih dari 40 menit. Sementara di bioskop, film panjang berkisar antara 90 hingga 120 menit. Bagi pengelola bioskop, durasi 90 menit dianggap ideal karena itu memungkinkan mereka memutar film lebih banyak dalam sehari. Sedangkan bagi penonton, 90 menit adalah batas waktu rata-rata untuk menonton tanpa merasa bosan dan kehilangan fokus.
Film Seri
Jauh sebelum.ditemukan televisi, film serial diputar di bioskop. Perkembangannya seiring dengan film panjang namun dengan pendekatan pemasaran yang berbeda. Film panjang dibuat agar cerita bisa diselesaikan dalam satu kali duduk. Sementara film serial bertujuan agar penonton ketqgihan dan datang lagi ke bioskop tiap minggu.
Biasanya, film serial diputar sebelum film utama (feature film) di mana cerita besar dibagi menjadi beberapa episode. Di era ini, muncul istilah “cliffhanger” yaitu ketika pahlawan atau tokoh betada dalam posisi bahaya. Akibatnya, penonton akan merasa penasaran dan kembali lagi ke bioskop minggu depan untuk mengetahui kelanjutannya.
Film serial.pertama yang ikonik adalah “The Perils of Pauline” (1914) yang mengisahkan Pauline, wanita muda yang ingin berpetualang sebelum menikah. Selain itu, ada film “Les Vampires” dari Prancis tahun 1915 yang menceritakan sebuah gang kriminal rahasia.
Menariknya, banyak film dengan karakter ikonik berawal dari film serial. Mereka di antaranya Flash Gordon, Tarzan, Batman, dan Superman. Namun sejak kemunculan dan popularitas televisi tahun 1950-an, film seri bioskop perlahan mulai hilang. Film serial kemudian berpindah ke layar televisi, memungkinkan penonton menyaksikan film di rumah.
Di era internet, film serial menjadi salah satu daya tarik aplikasi video streaming.. Penonton tak lagi harus menunggu waktu hanya untuk menonton kelanjutan film.
Lewat aplikasi video streaming, film seri yang terdiri dari beberapa episode dirilis sekaligus. Dengan demikian, penonton dapat menonton tiap episode film serial kapan saja secara nonstop (binge-watching) apabila menginginkannya.



