Alasan seseorang mengenali dan mengingat sebuah fashion brand bisa berasal dari karakter yang kuat dan konsisten. Karakter itu terlihet dari desain produk, pilihan warna, hingga cara brand menyampaikan narasinya.
Jenama modest fashion Muda punya pendekatan tersendiri dalam membangun karakter. Melalui konsep new definition, brand asal Bandung ini membawa gagasan tentang semangat muda yang tidak dibatasi usia, lalu menerjemahkannya ke dalam produk dan berbagai aktivitas brand.
Muda sendiri kini tengah memperluas jangkauan melalui pembukaan store ke-13 di kawasan Terban, Yogyakarta. Menurut salah satu owner, Asty Saputri, ekspansi tersebut turut dipengaruhi permintaan konsumen di Yogyakarta serta karakter kawasan itu yang dikenal sebagai salah satu distrik fashion.
“Terutama di sini (Yogyakarta) kan banyaknya Gen Z. Nah, jadi kita masuk karena permintaannya cukup banyak juga buat kita Terus kita melihat market-nya juga memang menarik di sini Apalagi, kan sepanjang jalan (Jl. C. Simanjuntak) ini kawasannya memang kawasan fashion, ya,” jelas Asty.
Menentukan Gagasan Utama Brand
Salah satu fondasi identitas fashion brand terdapat pada gagasan yang ingin dibawa. Muda saat ini mengangkat konsep new definition yang mendefinisikan kembali arti kata “muda”.
Muda tidak harus selalu berkaitan dengan usia. Konsep tersebut lebih diarahkan pada sikap dan semangat untuk terus memiliki energi muda, terlepas dari generasi seseorang.
“Kita menyebutnya Generasi M, Generasi Muda Jadi, umur itu hanya sebuah angka Bahwa sikap untuk terus kita selalu punya semangat muda itu tidak mengenal usia,” Asty menerangkan.
Gagasan seperti ini memberikan ruang bagi brand untuk berbicara kepada kelompok konsumen yang lebih luas. Kata “muda” tidak dibatasi pada kelompok usia tertentu, melainkan dikaitkan dengan karakter dan sikap.

Menerjemahkan Identitas ke dalam Produk
Gagasan brand akan lebih mudah dikenali ketika hadir secara konsisten dalam produk. Warna, motif, bentuk, material, hingga detail desain dapat ikut membangun karakter tersebut.
Muda menggunakan warna-warna warm dengan nuansa pastel dan soft. Pilihan tersebut kemudian hadir berdampingan dengan pattern yang terinspirasi dari budaya Indonesia.
Setiap koleksinya dapat mengangkat tema daerah tertentu. Sebelumnya, Muda pernah mengambil inspirasi dari Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa, hingga Sumatera. Pada tahun ini, tema yang diangkat adalah Nusa Tenggara Barat.
Batik atau wastra dari berbagai daerah digunakan sebagai sumber inspirasi pattern. Kemudian, inspirasi itu diolah kembali melalui desain dan warna yang sesuai dengan karakter Muda.
Cara seperti ini memperlihatkan bagaimana identitas brand dapat dibangun melalui proses interpretasi. Referensi budaya tetap hadir, tetapi memiliki bentuk visual yang disesuaikan dengan bahasa desain brand.
Konsisten Mengikuti Tren
Fashion selalu bergerak. Tren warna, siluet, motif, hingga gaya berpakaian dapat berubah dalam waktu relatif cepat. Kondisi tersebut membuat fashion brand perlu membaca perkembangan pasar tanpa kehilangan karakter yang sudah dibangun.
Muda mengadaptasi tren yang berkembang setiap tahun, tetapi tetap menyesuaikannya dengan DNA brand. Pendekatan ini membuat tren berfungsi sebagai referensi, sementara karakter brand tetap menjadi dasar dalam pengembangan produk.
Hal tersebut juga relevan bagi fashion brand yang ingin membangun identitas dalam jangka panjang. Mengikuti semua tren tanpa mempertimbangkan karakter sendiri dapat membuat produk terlihat berbeda dari satu koleksi ke koleksi berikutnya.
Sebaliknya, ketika tren diterjemahkan melalui bahasa visual yang konsisten, konsumen tetap memiliki petunjuk untuk mengenali asal sebuah produk.
Muda memiliki ritme peluncuran koleksi yang tergolong tinggi, dengan koleksi baru setiap minggu dan tema besar yang berbeda setiap bulan. Namun, banyaknya koleksi tidak harus membuat identitas visual ikut berubah-ubah.
Tema dapat berganti, sementara elemen tertentu tetap dipertahankan. Pemakaian warna pastel dan soft serta inspirasi dari budaya Indonesia dapat terus hadir meskipun sumber inspirasi daerahnya berbeda.
Pola seperti ini membantu menciptakan keseimbangan antara variasi dan konsistensi. Konsumen tetap mendapatkan sesuatu yang baru, tetapi masih menemukan karakter yang familiar dari brand tersebut.
Asty menyebut salah satu tantangan yang dihadapi brand saat ini adalah semakin banyaknya brand yang bermunculan. Karena itu, Muda melihat penguatan karakter brand sebagai salah satu hal yang perlu terus dilakukan agar tetap terlihat di tengah persaingan.

Memilih Kolaborator yang Selaras
Identitas brand juga dapat terlihat dari figur yang diajak berkolaborasi. Muda cukup banyak melakukan kolaborasi dengan artis atau influencer untuk menghadirkan koleksi tertentu.
Pemilihan sosok tersebut tidak semata-mata didasarkan pada popularitas. Menurut Asty, karakter dan spirit sosok yang diajak bekerja sama perlu memiliki kesamaan dengan brand, termasuk kesesuaian target market.
Alasannya, kolaborasi membawa asosiasi dari kedua pihak. Ketika karakter kolaborator sesuai dengan identitas brand, kerja sama dapat terasa lebih relevan bagi audiens yang sudah dimiliki.
Sebaliknya, pemilihan kolaborator yang terlalu jauh dari karakter brand dapat menghasilkan komunikasi yang kurang konsisten, meskipun sosok tersebut memiliki jangkauan audiens yang besar.
Identitas di Berbagai Titik Interaksi
Konsumen berinteraksi dengan brand melalui berbagai titik, termasuk media sosial, kampanye, kolaborasi, toko fisik, hingga acara. Bagi Muda yang basis pelanggannya kebanyakan di Sumatera, kehadiran offline ikut berkembang setelah tujuh tahun lebih banyak menjalankan bisnis melalui kanal online.
Toko fisik mulai dibuka pada tahun ketujuh dan kini jumlahnya mencapai 13, termasuk store terbaru di Terban, Yogyakarta. Perubahan tersebut mengikuti perilaku konsumen yang mulai kembali mencari pengalaman berbelanja secara langsung. Konsumen dapat melihat warna, mencoba pakaian, serta merasakan pengalaman berada di dalam toko.
Artinya, store juga dapat berperan sebagai bagian dari pengalaman brand. Identitas yang sudah dibangun melalui produk dan komunikasi perlu terasa selaras ketika konsumen bertemu langsung dengan brand.
“Kita dalam jangka waktu dekat kita memang ingin membuka beberapa cabang kembali Kemudian ada beberapa campaign branding Untuk di tahun-tahun depan, mudah-mudahan bisa bikin brand-nya makin dikenal,” ujar Asty.
Membangun Komunitas melalui Brand Experience
Muda memiliki annual show yang rutin digelar di Jakarta menjelang Ramadan. Pada momen tersebut, umumnya permintaan pakaian muslim mengalami lonjakan signifikan.
Acara tersebut tidak hanya bertujuan untuk memperlihatkan koleksi terbaru. Muda memanfaatkannya sebagai wadah untuk bertemu dengan customer, komunitas, serta mitra dari berbagai daerah.
Format seperti ini memperluas hubungan antara brand dan konsumennya. Interaksi terus berkembang melalui pengalaman dan pertemuan langsung.



