Bahan untuk menghasilkan warna batik dapat ditemukan dari berbagai jenis tanaman. Mulai dari daun, kulit buah, kulit kayu, hingga akar, setiap bagian memiliki pigmen dengan karakter berbeda yang dapat dimanfaatkan dalam teknik natural-dyed batik.
Karakter bahan turut menentukan warna yang dihasilkan. Karena itu, proses pewarnaan alami memiliki banyak kemungkinan sekaligus membutuhkan ketelitian dalam setiap tahap pengerjaan.
Pemilik Abhati Studio di Yogyakarta, Putri Anggita Mustikasari, menjelaskan bahwa naturally dyed batik pada dasarnya merupakan batik tulis yang menggunakan pewarna alami. Perbedaannya terutama terlihat pada tahapan persiapan kain dan proses pewarnaan yang membutuhkan waktu lebih panjang.
Kain Berserat Alami
Pemilihan kain menjadi tahap awal yang penting dalam naturally dyed batik. Kain yang digunakan perlu memiliki kandungan serat alami agar mampu menerima pewarna dari tumbuhan dengan baik.
Jenis kain yang dapat digunakan antara lain katun, linen, sutra, wool, viskos, hingga lyocell yang berasal dari serat kayu eucalyptus. Kain dengan campuran dua jenis serat alami, seperti linen dan katun atau katun dan sutra, juga masih dapat digunakan.
Sementara itu, kain yang mengandung serat sintetis seperti polyester kurang sesuai untuk proses ini karena karakter seratnya berbeda dalam menerima warna alami.
Pemilihan material sejak awal membantu proses pewarnaan berlangsung lebih optimal sekaligus memungkinkan karakter warna dari bahan alam muncul pada permukaan kain.
Tahap Persiapan Kain
Salah satu hal yang membuat proses natural-dyed batik lebih panjang terletak pada tahap persiapan kain.
Sebelum mulai menggambar pola, kain perlu melalui proses scouring dan mordanting. Scouring dilakukan untuk membersihkan kain dari berbagai residu yang masih terdapat pada serat, sedangkan mordanting merupakan tahap persiapan agar serat kain lebih siap menerima dan mengikat warna alami.

Setelah kedua tahap tersebut selesai, proses membatik dilanjutkan dengan menggambar pola menggunakan pensil, kemudian mencanting menggunakan malam.
Rangkaian ini membuat persiapan material menjadi bagian penting sebelum motif mulai dibuat. Setiap tahap turut berpengaruh terhadap hasil akhir kain.
Warna dari Bagian Tanaman
Sumber pewarna alami memiliki keragaman yang cukup luas. Bahan yang digunakan dapat berasal dari bagian tanaman yang berbeda, tergantung pigmen yang ingin diperoleh.
Jolawe, misalnya, memanfaatkan kulit buah. Kulit buah manggis juga dapat digunakan sebagai sumber warna. Sementara itu, daun indigofera dapat diolah menjadi pewarna biru alami.
Daun ketapang dan daun mangga juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pewarna. Pada tanaman mangrove, bagian yang digunakan adalah kulit kayunya, sedangkan mengkudu memanfaatkan kulit akarnya.
Keragaman tersebut menunjukkan bahwa sumber warna natural-dyed batik dapat ditemukan dari berbagai bagian tanaman. Setiap bahan memiliki karakter pigmen yang berbeda sehingga menghasilkan warna dengan karakter tersendiri.
Pewarnaan dengan Pencelupan Berulang
Tahap pewarnaan menjadi salah satu perbedaan yang paling terasa antara pewarna alami dan pewarna sintetis.
Pada pewarna sintetis, warna tertentu dapat diperoleh melalui satu kali pencelupan sesuai formula yang digunakan. Pewarna alami membutuhkan proses pencelupan berulang untuk mencapai intensitas warna yang diinginkan.
Untuk mendapatkan warna biru, misalnya, kain dapat dicelup beberapa kali. Empat hingga enam kali pencelupan dapat dilakukan, sementara warna biru yang lebih gelap dapat membutuhkan 12 kali pencelupan atau bahkan lebih.
Setiap pencelupan dilakukan secara bertahap hingga intensitas warna yang diinginkan tercapai. Proses tersebut membuat pengerjaan naturally dyed batik dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan, tergantung desain, warna, serta tingkat intensitas yang ingin dicapai.
Motif dan Warna Dikerjakan Bertahap
Proses yang panjang semakin terlihat ketika satu kain memiliki beberapa warna. Setelah satu bagian mendapatkan warna tertentu, area yang perlu dipertahankan warnanya akan kembali ditutup menggunakan malam. Kain kemudian dicelup menggunakan warna berikutnya.
Tahapan mencanting dan pewarnaan dapat dilakukan berulang sesuai kebutuhan motif. Setiap lapisan warna membutuhkan perencanaan agar hasil akhirnya tetap sesuai dengan rancangan.
Dengan teknik tersebut, setiap tahapan saling berkaitan. Kesalahan pada satu tahap dapat memengaruhi proses berikutnya sehingga ketelitian menjadi bagian penting dalam pengerjaannya.
Setelah seluruh proses pewarnaan selesai, kain memasuki tahap akhir yang disebut lorot. Kain direbus untuk melepaskan malam yang masih menempel pada permukaannya. Setelah malam terangkat, motif batik yang sebelumnya tertutup akan terlihat dengan lebih jelas.
Warna Alam Memiliki Karakter Berbeda
Penggunaan bahan alami membuat hasil warna memiliki karakter tersendiri. Warna yang muncul dipengaruhi oleh jenis tanaman, bagian tanaman yang digunakan, proses pengolahan, jumlah pencelupan, hingga karakter kain.
Karena itu, hasil pewarnaan alami dapat menghasilkan nuansa yang berbeda pada setiap proses. Karakter tersebut menjadi salah satu daya tarik natural-dyed batik karena warna yang terbentuk memiliki hubungan langsung dengan bahan alam dan proses pembuatannya.
Pendekatan ini juga membuat proses produksi membutuhkan lebih banyak waktu dan perhatian dibandingkan teknik pewarnaan yang dapat menghasilkan warna secara lebih cepat dan seragan.



